Inspirasi : Pengalaman Bisnis Begawan Properti Dr Ir Ciputra


Pengalaman bisnis begawan properti Indonesia Dr Ir Ciputra membuat 167 dosen peserta Training of Trainers (TOT) Entrepreneurship di Surabaya pekan lalu berkali-kali tepuk tangan. Mereka terkaget-kaget dengan kekayaan ide dan cerita-cerita unik pada diskusi jarak jauh melalui videoconference, Jakarta-Surabaya, itu.


“Salam Entrepreneur” begitu ucap Ciputra memberi salam kepada dosen-dosen yang sedang ditulari spirit wirausaha itu. Tiga jari di tengah pada tangan kanannya, –jari telunjuk, jari manis, jari tengah— menunjuk horizontal ke kiri. Sedang jempol dan kelingking ditekuk ke dalam. Sehingga dari depan, membuat gambar bentuk huruf “E” yang berarti “Entrepreneur.” Ini adalah kali pertama model salam seperti itu disosialisasikan Ciputra.

Dosen-dosen yang sedang dididik spirit kewirausahaan itu ikut menirukan “Salam Entrepreneur” itu. Mereka yang berada d Hotel Garden Palace, Surabaya itu membalas salamnya Pak Ci -sapaan akrab Ciputra-, yang berada di galeri kediamannya, Bukit Golf Utama, Pondok Indah, Jaksel. Kegiatan ini adalah kerjasama Universitas Ciputra Entrepreneur Center (UCEC) dan Direktorat Pendidikan Tinggi.

Kakek yang 24 Agustus 2009 ini genap berusia 78 tahun itu pun sangat gesit menjawab 25 pertanyaan dosen-dosen itu. Unik-unik, mendasar, dan kadang lucu-lucu. Seperti pertanyaan Rustina Untari, dosen Unika Soegijapranata Semarang. “Pertama kali buka usaha, lebih baik yang mana? Usaha perorangan atau kelompok?” tanyanya.

Pak Ci pun balik bertanya, “Kalau Anda, sebagai dosen dan calon penyebar virus entrepreneurship, ingin beternak ayam, dari mana dulu memulainya? Ayam dulu? Atau sebaliknya, telur?” Audence pun terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan yang terkesan remeh temeh itu. “Saya pilih ayam dulu!” jawab Untari meyakinkan.

Ciputra menghargai jawaban yang penuh percaya diri itu. Tetapi, jawaban itu dinilai tidak benar. Maka, audience pun semakin kencang tertawanya. Mereka tidak bermaksud menertawakan Rustina Untari. Mereka terpingkal-pingkal dengan gaya Pak Ci mengetes calon penyebar virusnya. “Bahkan, kalau Anda menjawab pilih telur dulu, juga tetap salah!” tambah Pak Ci, yang lagi-lagi membuat suasana audience makin hangat dan cair.

Mereka tidak menduga, tokoh konglomerat, yang eksis sejak rezim Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, sampai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu ternyata suka bercanda. “Tergantung apa yang Anda punya? Apa yang Anda kuasai? ayam dulu, atau telur dulu. Jangan bertanya kepada orang lain, sebaiknya bisnis apa? Bentuk usahanya seperti apa? Berpartner dengan siapa? Baiknya kapan memulainya?”. “Entrepreneurship hanya memberi guidance kepada Anda untuk memudahkan menjawab semua pertanyaan itu! Juga memberikan inspirasi untuk mengambil keputusan. Selanjutnya, Anda sendiri yang meneruskan dan membuat keputusan,” jelas bos PT Pembangunan Jaya, Metropolitan dan Ciputra Group ini.

Ciputra melanjutkan, sama dengan pandangan orang terhadap ayam. Ada yang melihat ayam, langsung membayangkan ayam goreng, ayam bakar, sate ayam, atau gule ayam. Orang miskin lain lagi, memandang ayam itu langsung berpikir, bagaimana untuk mencurinya. Seorang entrepreneur, melihat ayam, idenya menjadi: “Bagaimana beternak ayam, memperbanyak produksi, mempercepat produksi, menjaga harga, menaikkan value, dan lainnya,” tutur Ciputra.

Pertanyaan yang menggelitik juga datang dari Setyo, dosen Institut Pertanian INTAN Jogjakarta. Dia menyebut, risiko bisnis di bidang pertanian sangat tinggi. Pupuk mahal, karena terlalu banyak “calo” dalam distribusi pupuk oleh pemerintah daerah. Hama merajalela, sementara harga pestisida semakin mahal. Lalu apa yang harus dilakukan di sektor pertanian? Sebagai negara agraris yang sebagai besar penduduk bertani, apa entrepreneur yang bisa dipetik dari sini?

Ciputra menjawab, berpikir entrepreneur adalah berani ambil risiko untuk mengambil komoditas tanaman yang dibutuhkan pasar. Memilih jenis tanaman yang bisa diproduksi masal, yang memiliki nilai lebih, yang bisa ditambah lagi nilainya dengan sentuhan indus­tri. “Temukan komoditas tanaman yang punya prospek baik ke depan, sesuai dengan kandungan unsur hara yang ada,” ujarnya.

Ciputra menyebut, kuncinya adalah industrialisasi bidang pertanian yang harus digarap lebih serius. Agrobisnis namanya. “Kita ini kok masih bertumpu pada pertanian melulu. Padahal, revolusi pertanian itu revolusi paling primitif, paling lama. Setelah itu ada revolusi industri, dan sekarang di dunia sudah masuk abad revolusi hi-tech. Teknologi tinggi! Kita kok masih berkutat di kubangan yang sama, meskipun sudah 64 tahun merdeka,” tuturnya.

Memang, lanjut dia, negeri ini 350 tahun terjajah oleh Belanda, yang dirusak mind set berpikir kreatifnya. Padahal itu, yang paling mahal bagi bangsa ini untuk maju menjadi Republik Entrepreneurship. Karena itu, lanjut dia, bermain di industri pengolahan dan industri pasca panen akan lebih bernilai. “Juga ilmu menjual produk yang menjadi branded. Brand itu sendiri sudah menaikkan value dan otomatis harga,” jelasnya. Diproduksi di tempat yang sama, dengan bahan yang sama, melalui mesin yang sama, tetapi dikemas dengan cara yang berbeda, harganya bisa bisa berlipat-lipat. “Pertanian organik misalnya, harga bisa berlipat, tinggal kepercayaan diri petani untuk berubah dan naik level dalam bertani,” ujar Ciputra.

Kalau sukses, kata dia, maka produksi pertanian pun akan berharga mahal. Dia mencontohkan di Singapura, karena pemerintahnya sudah entrepreneur maka pendapatan per kapitanya 15 kali lebih besar dari Indonesia. Barang-barang komoditas Singapura yang berasal dari nusantara pun menjadi lebih bernilai jika disentuh oleh Singapura. “Seperti fosil akar pohon yang sudah ratusan tahun itu, beli di Sukabumi Rp 5 juta, dijual di Singapura dengan sentuhan packaging mereka, harga bisa Rp 500 juta, padahal barangnya sama. Itulah kekuatan brand,” tegas Ciputra. (don kardono)

[ Selasa, 18 Agustus 2009 ] Di ambil dari situs JawaPos


1 Komentar »

  1. diana said

    Sangat Setuju

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: