Entrepreneur Sukses Harus Pelihara Takut


Tidak ada orang yang tidak punya rasa takut gagal dalam berbisnis. Sehebat apa pun? Sesempurna siapa pun? Takut itu hal yang amat manusiawi. Semua orang mengalaminya, termasuk Ir Ciputra, konglomerat yang sudah kenyang dengan asam-garamnya pengalaman.

PERTANYAAN Retno Hartati, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen STIM YKPN Jogjakarta itu cukup menyentak. “Bagaimana bapak mengatasi rasa takut dalam berbisnis ? Takut gagal? Takut bangkrut? Takut apa yang sudah dibangun sekarang ini ambruk?” tanyanya dalam seminar bisnis bersama Ciputra di Surabaya awal bulan lalu. Ciputra pun memuji pertanyaan itu.

Ujian terberat bagi seorang entrepreneur adalah bangkit setelah jatuh. Mengembalikan kejayaan, ketika sedang dirundung kebangkrutan. Dan itu pernah dialami Ciputra saat krisis moneter 1997-1998 lalu. “Practically, krisis ekonomi itu membuat perusahaan saya bangkrut. Karena nilai dolar AS melonjak tajam hingga Rp 16 ribu, proprerti menjadi sektor yang paling terimbas badai krisis itu,” aku Ciputra.

Untung, lanjut dia, dengan prinsip-prinsip entrepreneurship, perusahaan bisa pulih
lebih cepat dari yang diduga sebelumnya. Tentu dengan melakukan perubahan-perubahan ekstrem dalam kebijakan bisnis. Setelah berbenah selama hampir 10 tahun, tahun 2009 ini, empat perusahaan anggota Grup Ciputra, masuk nominasi terbaik nasional dalam lima besar dari lebih dari 23 perusahaan yang diteliti. Bahkan, salah satunya meraih juara pertama. Penghargaan itu melalui perhitungan yang detail, dan dilakukan oleh sebuah media bisnis.

Bahkan, omzet group yang di bawah pengelolaan Ciputra ini mencapai Rp 16 triliun selama satu tahun. Dari omzet itu, laba yang diperoleh mencapai Rp 1,6 triliun di tahun 2008, atau proftl on sales-nya 10 persen. “Musuh utama bagi entrepreneur muda adalah overconfidence. Kepercayaan diri yang berlebihan. Terlalu pede. Itu bisa menjadi penyakit yang bisa meruntuhkan semua yang ada,” jelasnya.

Mengapa? “Itu yang pernah saya alami. Saya dipercaya bank untuk mengambil kredit dalam angka yang sangat besar, karena track record saya di bank selama ini sangat baik. Tidak ada kredit macet, semua on progress. Bank rela memberi kredit dengan angka yang spektakuler. Kala itu saya ambil banyak, karena hitungan di atas kertas, sangat menguntungkan. Saya yakin, dengan dikasih bunga 15 persen, maka return paling jelek 20 persen lebih. Sudah ada selisih 5 persen, karena itu saya sangat berani,” aku Ciputra.

Apa yang terjadi? Resesi menghantam dunia, termasuk Indonesia, ekonomi global tiba-tiba terserang sakit, suku bunga bank naik, sementara daya beli masyarakat jatuh. Harga bahan baku naik. Properti seperti tercekik kiri kanan. “Utang kami 20 kali dari kemampuan sales-nya. Tetapi sekarang berbalik, sales-nya 20 kali dari utangnya. Jadi tumbuh menjadi perusahaan yang sangat sehat,” tandasnya.

Mengapa bisa segera bangkit? Jawabannya: Entrepreneurship! Kuncinya ada di inovasi. Nyawanya ada di kreativitas. Prinsipnya, harus jeli melihat ada udang di balik batu. “Spirit inilah yang saya jadikan budaya perusahaan. Harus selalu bisa melihat ada peluang-peluang di setiap sisi,” ungkapnya.

Karena itu, “takut” itu harus tetap ada. Bahkan, takut itu harus dipelihara sebagai rem. Ibarat mobil yang melaju cepat, juga harus memiliki rem yang pakem, agar tidak gampang terjerumus ke jurang. Hanya Superman yang tidak bisa jatuh dan tidak pernah kalah. Manusia normal, pasti menghadapi gelombang naik turun. “Jadi takut pun harus proporsional. Terlalu takut tidak bisa maju, karena juga bisa takut berinovasi. Terlalu berani, juga bisa menabrak batas-batas yang bisa berakibat jatuh bangkrut,” tuturnya.

Apa yang harus dipersiapkan? Itu yang paling penting. Ada yang namanya risk managemen, atau manajemen risiko. “Kami menggunakan jasa konsultan manajemen risiko itu, yang melihat struktur keuangan, sumber daya manusia, risiko kebakaran, risiko material, dan lain-lain. Ini perlu untuk mempersiapkan diri jika ada tanda-tanda bahaya,” ungkap dia. (don kardono)

Sumber: Jawapos.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: