Archive for Renungan

Garuda menyatukan kita…

Tim Garuda berjuang sepenuh hati.

“Hari ini, melalui bola bangsa kita bersatu.

Kali ini, tak ada beda antara kau dan aku.

Kita berteriak sama kerasnya,

Kita pun bersama, saat sama-sama kecewa, saat sama-sama bahagia…

 

Tak masalah kita menang atau kalah

Sepanjang kita berjuang dengan sepenuh hati

Sejatinya kita telah menjadi pemenang

Pemenang sejati yang telah menyatukan negeri “.


Hari ini, di penghujung tahun 2010, saya melihat sesuatu yang luar biasa dari bangsa kita.

Ya, melalui pergelaran Piala AFF 2010, saya melihat sesuatu yang sudah sejak lama tak terlihat. Saat ini saya bisa menyaksikan dengan begitu jelasnya…

Baca selengkapnya…

Comments (6)

Diam itu berarti…

A Wise Old Owl

A wise old owl Lived in an oak.
The more he saw,The less he spoke.

The less he spoke, The more he heard.
Why can’t we be like That wise old bird?

Sudah lama sekali rasanya saya tak “berbicara” di sini. Jari-jari saya mungkin sudah agak kaku untuk sekedar menari-nari menyuarakan isi hati. Sudah lama memang, sejak posting yang terbit di akhir bulan Maret lalu, berarti sudah hampir 8 bulan saya belajar “diam”, puasa dari menulis postingan.

Ya, “diam”…

Selama ini saya memang sedang belajar “diam”. Mencoba membuka mata dan telinga, menangkap apa saja yang mungkin terlintas di depan mata, tanpa bersuara. Mungkin persis seperti yang dilakukan Burung Hantu di sajak yang saya kutip di awal tulisan ini…

“Seekor Burung Hantu Tua bertengger di sebuah pohon.

Semakin dia melihat semakin sedikit dia bicara.

Semakin sedikit dia bicara, semakin banyak dia mendengar.

Kenapa kita tak bisa seperti burung tua yang bijaksana itu? ”
Baca entri selengkapnya »

Comments (10)

Kompromi : Di Antara Hitam dan Putih

Lagi dan lagi, pertanyaan-pertanyaan klise muncul di kepala saya. Apakah “kebenaran” harus selalu diperjuangkan?

Tentu jika saya bertanya ke jenengan, saya yakin hampir semua akan menjawab iya. Apalagi bagi jenengan yang masih berjiwa muda seperti saya, yang konon katanya idealismenya masih sangat tinggi: Kebenaran harus disuarakan, itu sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apapun resikonya.

Itulah yang saya lakukan beberapa waktu lalu, dan kadang masih saya lakukan hingga sekarang. Ketika bicara tentang sesuatu hal, saya selalu berbicara menurut keyakinan saya. Kepada rekan kerja, bawahan juga kepada atasan. Tanpa sungkan dan rau, saya selalu berusaha berbicara apa adanya. Meski saya tau, ucapan saya itu akan tidak bisa diterima, atau salah-salah menyinggung hati seseorang.

Bukankah kebenaran tak selalu manis? Atau malah seringkali pahit?

Baca Selengkapnya.

Comments (22)

Untuk Seorang Sahabat

” Kemarin dia masih di sini. Menyambut kedatanganku dengan tangan terbuka. Hingga sebuah kabar mengejutkan tiba, Aku harus pergi. Menjauh dari dirinya. Meninggalkan sahabat yang selama ini diam-diam begitu berarti. ”

 

Sahabat,

seperti yang pernah kukatakan padamu,

setiap sahabat memiliki arti sendiri-sendiri.

Satu sahabat pergi,

tak lalu dapat terganti dengan yang lain lagi.

 

Ah, sungguh aku tak mengerti

Bahkan belum bisa kupahami hingga kini

Seorang sahabat harus pergi, atas nama hati.

Atas nama alasan yang tak kan bisa kumengerti.

 

Aku tak menyalahkanmu, hatimu hanya kamu yang tahu.

Begitu juga aku, hatiku hanya aku yang tahu…

 

Jika kau anggap semua ini salah, maka biarlah semua berakhir

Seorang sahabat pergi,

atas nama hati… atas nama kebahagiaan yang dinanti…

 

                Cepu, 21 Januari ’10

Comments (39)

Older Posts »