Archive for Poliklitik

Ketika taring tak lagi tajam…

Selamat datang sahabat-sahabatku… Apa kabar jenengan semua? Semoga jenengan saat ini sedang berbahagia, sama seperti saya… He.he.


Setelah beberapa saat lalu saya berbicara tentang Pak Boediono,sekarang gantian saya ingin berbicara tentang Pak Jusuf Kalla (JK). Loh, Ada apa dengan JK?

Baca Selengkapnya.

Comments (3)

Kojeng : Bahasa politis…

” Sejujurnya saya tak tahu benar apa yang dimaksud “bahasa politis” itu. Mungkin jika Jenengan telusuri asal kata dan arti frasa tersebut di wikipedia, kecil kemungkinan Jenengan akan memperoleh jawaban yang memuaskan. Meski begitu Jenengan tak perlu kuatir, Saya dengan “sok tahu” akan menjelaskannya kepada jenengan semua…” He.he.

Apa yang dimaksud bahasa politis? Saya mencoba mencarinya di wikipedia, dan memang hasil yang saya peroleh jauh dari yang saya maksudkan di sini.

Istilah bahasa politis ini “mungkin” muncul sebagai reaksi atas ulah para politisi senior di negeri kita. Loh kok? Jika Jenengan sering mengamati komentar-komentar dan pernyataan politisi kita dalam menanggapi berbagai isu, hampir semua dari mereka tidak memberikan pernyataan pasti. Tapi selalu berupa pernyataan “mengambang” yang bersifat muti-tafsir.

Nah, pernyataan yang masih bisa dipelintir semacam itulah yang saya maksudkan dengan bahasa politis.

(Ndak setuju? He.he. :))

Baca Selengkapnya.

Comments (13)

Kojeng : Akhirnya bisa ikutan nyontreng…

Ayo nyontreng....

Ayo nyontreng....

Lega rasanya. Setelah pada pemilu legislatif kemarin tidak bisa ikut nyontreng, hari ini saya bisa nyontreng juga. Senang. Puas. Itulah yang saya rasakan. Meski ada yang mengangap satu suara yang kita berikan tidak akan terlalu berarti, tapi ada yang kurang rasanya kalo tidak bisa ikut serta. Satu suara itu yang akan menentukan nasib bangsa ini 5 tahun ke depan. Iya, satu suara yang kita berikan memang akan menentukan nasib bangsa ini.(meski bukan satu-satunya…).

Setidaknya ada satu hal yang menarik yang bisa saya ihat dari proses demokrasi yang bernama pemilihan umum. Di pemilu  seperti inilah kita sebagai warga negara memiliki posisi dan hak yang sama. Kita, setiap satu warga negara sama-sama memiliki satu hak suara. Tidak peduli apakah jenengan presiden atau saya yang hanya rakyat biasa, suara saya dan jenengan bernilai sama. Sama-sama bernilai satu suara. Apakah jenengan bergelar profesor atau saya yang hanya lulusan SLTA, suara kita bernilai sama. Di sinilah kita semua, sebagai warga negara, hak kita bersuara diakui. Jika dalam kehidupan sehari-hari suara kita sering tidak dianggap, dalam pemilu ini suara kita diakui sama dengan suara presiden. Gimana?

…baca selengkapnya.

Comments (4)

Kojeng : merindukan pemimpin sejati…

Pak Boediono, sang ekonom...

Pak Boediono, sang ekonom...

Sore ini kojeng seperti biasa, mendekati jam 16.00 kojeng sudah stand by di depan komputer. Capek banget rasanya. Seharian tadi di lapangan, ketemu sama pelanggan-pelanggan, hampir setengah hari celingak-celinguk seperti orang bingung nyari barang ilang. 🙂

Sore hari seperti ini yang sering kojeng nantikan. Setelah lepas dari jam kerja, setelah selesai menunaikan tugas hari ini, kojeng bisa melepas penat. Nyampe kantor langsung nyalain komputer, nengok stats di blog kolojengking bentar dan akhirnya bisa browsing, membaca postingan-postigan  ndoro kakung n mb’ dewi lestari. Itulah kojeng. Gak ada yang rumit. Just simple. 🙂

Back to the title, merindukan pemimpin sejati. Judul itu kojeng dapet setelah baca postingan ndoro kakung perihal cawapres SBY, Pak Boediono. Sekedar catatan, Pak Boediono ini adalah sosok yang mampu membuat kojeng bergairah (gak pake napsu loh… :)), Satu diantara beberapa idola kojeng yang mampu menjadi titik terang masa depan bangsa ini. …baca selengkapnya

Comments (1)

Pilpres, harapan baru negeri ini…

Pemilu... Oh, Pemilu...

Pemilu... Oh, Pemilu...

Tinggal menunggu hari, pilpres akan kembali digelar. Momen yang dinanti-nanti oleh kita, sebagai warga negara yang tentunya menginginkan “perubahan”. Kali ini kojeng (ni nama yang gw pilih sebagai nick gw, kojeng=kolojengking. he.he.) lagi pengen ngomong politik. Meski kojeng bukan pemerhati politik kenamaan sekelas Bang Eep saefullah, toh tak berarti kojeng ketinggalan berita tentang seluk beluk perpolitikan tanah air dewasa ini.

Kojeng selalu mencermati berita terbaru loh, tiap hari kojeng nyempetin baca koran, buka internet, ya cuman pengen tau ada kejutan apalagi di kancah politik negeri ini. So, kalo kojeng ngomong politik, meski gak mutu-mutu amat tetep deh bisa dijadiin wacana. Tapi, ini pesen kojeng yang pertama, jangan sampai jenengan men-judge kojeng agen-agen capres tertentu. Kojeng gak mau ikut-ikutan kampanye, gak da untungnya. he.he.

Awalnya kojeng seneng baca berita tentang politik pas hangat-hangatnya Pileg 2009, ngikutin visi-misi para pesohor negeri yang dengan menggebu-gebu “pengen” ambil peran dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Setelah mereka melihat kondisi bangsa yang tak kunjung membaik, mereka akhirnya memutuskan turun gunung, ingin ikut andil secara langsung memperjuangkan nasib bangsa ini. Ada yang muncul dengan wajah baru, meski sebenarnya mereka ya wajah lama juga. Adapula yang memang dari dulu dikenal luas sebagai wajah lama yang kemudian masuk ring kembali. Rame, itu kesan pertama yang ada di benak kojeng. Banyak kontestan, banyak yang jauh-jauh hari sudah mendeklarasikan diri sebagai capres. Ada yang sejak awal koar-koar di tipi, ada yang dengan dalih menuruti panggilan hati dan ada pula yang awalnya mau maju tapi akhirnya menghilang sendiri.

…baca selengkapnya.

Tinggalkan sebuah Komentar