Diam itu berarti…


A Wise Old Owl

A wise old owl Lived in an oak.
The more he saw,The less he spoke.

The less he spoke, The more he heard.
Why can’t we be like That wise old bird?

Sudah lama sekali rasanya saya tak “berbicara” di sini. Jari-jari saya mungkin sudah agak kaku untuk sekedar menari-nari menyuarakan isi hati. Sudah lama memang, sejak posting yang terbit di akhir bulan Maret lalu, berarti sudah hampir 8 bulan saya belajar “diam”, puasa dari menulis postingan.

Ya, “diam”…

Selama ini saya memang sedang belajar “diam”. Mencoba membuka mata dan telinga, menangkap apa saja yang mungkin terlintas di depan mata, tanpa bersuara. Mungkin persis seperti yang dilakukan Burung Hantu di sajak yang saya kutip di awal tulisan ini…

“Seekor Burung Hantu Tua bertengger di sebuah pohon.

Semakin dia melihat semakin sedikit dia bicara.

Semakin sedikit dia bicara, semakin banyak dia mendengar.

Kenapa kita tak bisa seperti burung tua yang bijaksana itu? ”

Pertanyaannya, kenapa saya harus belajar untuk lebih banyak mendengar dan sementara “diam”?

Bagi saya, berbicara (dan menulis) ibarat candu yang begitu menggoda. Setiap ada kesempatan untuk berbicara, saya tak menyia-nyiakannya. Dalam diskusi, rapat atau apa saja. Berbicara memberi kepuasan tersendiri dalam hati saya.

Begitu juga menulis. Meski tulisan saya masih jauh dari kata bagus, toh itu tak membuat saya sungkan untuk menulis apa saja. Setiap kali ada hal menarik, ingin sekali saya menceritakannya melalui tulisan. Berbagi pada jenengan semua, dan tentu saja memberi rasa bahagia pada diri saya.

Namun, seiring berjalannya waktu saya mulai berpikir. Sudah tepatkah yang saya lakukan?

Bagi sebagian orang berbicara (apalagi menulis) bukanlah hal yang mudah. Tentu, jika berbicara itu dalam arti berbicara pada teman, keluarga atau siapa saja yang lazim kita lakukan sehari-hari saya yakin semua bisa. Berbicara yang saya maksud adalah mengungkapkan ide, gagasan atau pendapat di forum resmi atau melalui tulisan misalnya. Tentu tak semua orang mampu melakukanya.

Dan itulah yang selama ini saya pelajari. Membangun kepercayaan diri untuk berdiri dan bersuara, menghilangkan keraguan untuk berani menyuarakan isi hati. Dan Alhamdulillah, usaha itu akhirnya berhasil juga. Sekarang saya tak ragu untuk bersuara, jika memiliki pendapat saya tak ragu menyampaikannya. Bahkan jika pendapat saya berbeda pun saya tak ragu memperjuangkannya.

Sampai suatu ketika, di saat saya semakin tenggelam dalam “euforia” kebebasan berbicara itu, saya kembali berpikir. Apakah yang selama ini saya katakan dengan penuh keberanian adalah semata kebenaran sesungguhnya, atau cuma “kebenaran” di mata saya?

Ah… sepertinya saya memang sudah terlalu banyak bicara. Untuk itu saya memutuskan untuk merenungkan kembali apa-apa yang pernah saya katakan, dengan “diam”, dengan lebih banyak melihat dan mendengar.

“Berbicara” pada hakekatnya bukan sekedar mengeluarkan suara atau merangkai kata menjadi sebuah cerita, tapi memberi makna pada apa yang kita utarakan. Tanpa makna, “suara” kita akan kehilangan jiwa. Tanpa jiwa pada “suara” kita, bunyi yang dikeluarkan rongga mulut kita tak berbeda dengan bebunyian lainnya: tak begitu bermakna.

Mungkin itu yang hendak disampaikan oleh penulis sajak di atas. Melihat, mendengar dan berkata ada porsinya masing-masing. Sebelum belajar berkata kita harus belajar untuk melihat dan mendengar.

Semoga dengan lebih banyak melihat dan mendengar itu, saya bisa mendapatkan lebih banyak kebijaksanaan yang akan menambah makna pada setiap kata yang saya ucapkan. Dan semoga dengan kebijaksanaan itu saya bisa lebih sering berbagi cerita kaya makna dengan jenengan semua, di sini, di blog ini, dengan sepenuh hati…

Menurut jenengan, bagaimana?

 

10 Komentar »

  1. Aku Bicara said

    Mari sekarang bicara friend… aku temanin..

  2. alo bos, salam kenal🙂
    daripada diam ayuk kita ngobrol😀
    btw tukeran link yuk😀
    ditunggu kabar baiknya ya🙂

  3. Mas Kojeeenggg…………
    apa kabar?
    semoga selalu sehat,amin

    Diamnya Mas Kojeng, jadi bikin bunda malu……….
    krn ternyata bunda kurang sangat dlm mendengar dan meihatpun masih dgn cara yang rabun……….hiks…..😦

    semoga tulisan ini, bisa bikin bunda mampu utk lebih mendengar lebih baik dan bicara hanya yang perlu saja.
    salam

  4. Silakan kunjungi blog sehat di http://www.wisnuvegetarianorganic.wordpress.com/

  5. dian said

    Diam itu berarti emas
    Dian itu berarti enas🙂

  6. iwaklele said

    siiiiiiiiiiiiiipppppppppppp…………………………

  7. finda said

    Sma om.. sy jg sering liburrrrr hehe.. apalg blakangan ini rasanya hidup ini perlu bnyak ditata,, banyak mendengarkn itu lbh baik..🙂

  8. Narita said

    Menurut sy gk smw diam itu baik,terkadang menyakitkan krn kita hny menyimpan sendiri apa2 yg menjd ganjalan ht

  9. Teladani sikap bijak burung hantu tsbt🙂

  10. Jangan terlalu memikirkan masa lalumu kini mereka hanya kenangan. Tatap masa depanmu karena disanalah impian.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: