Obat generik, manjurkah?


Pagi tadi, sesampainya di kosan sekembali dari kampung halaman, tiba-tiba dinda bestari menuntut pertanggung jawaban saya!

Loh, apa salah saya? Jenengan tidak berpikir saya berbuat terlalu jauh dengan dinda bestari toh?

Syukurlah jika jenengan tidak berpikir seperti itu.

Apa karena saya berselisih alias bertengkar dengan dinda bestari?

Ah, bukan… Saya dan dinda bestari baik-baik saja. Setelah 3 hari kemarin menghabiskan liburan bersama, terlalu aneh jika hari ini tiba-tiba kami bertengkar.

Begini ceritanya :

Sebelum berangkat ke kantor tadi pagi, saya menyempatkan waktu menelepon dinda bestari. Percakapan basa-basi berlangsung seperti biasa. Tanya saya sampai kosan jam berapa? Kenapa saya tidak langsung memberi kabar waktu tiba? Dan pertanyaan standar lain dengan cepat bisa saya jawab. Sampai akhirya dinda bestari berkata seperti ini:

“Beb, kamu harus tanggung jawab…”. Kata dinda bestari tiba-tiba.


“Loh… Loh… tanggung jawab apa?” Saya kaget, perasaan saya ndak melakukan apa-apa.

“Kemarin kamu bilang ke ibu’ soal obat generik to?”

“Iya. Ibu’ tanya, ya tak jawab. Emang kenapa beb?” Tanya saya keheranan.

“Sayang bilang kalo obat generik sama dengan obat-obat yang dari dokter spesialis to?” (Maksudya obat selain generik yang umum diberikan dokter spesialis)

“Ibu’ tadi bilang gak mau berobat lagi ke dokter spesialis. Katanya mau berobat ke rumah sakit umum aja, biar dikasih obat generic gitu. Katanya biar lebih hemat…”

“Loh, emang bener kan beb? Obat generik kan sama saja khasiatnya dengan obat yang lebih mahal. Kan sama-sama obatnya, harusnya sama dong khasiatnya…” Jawab saya asal.

“Tapi kan gara-gara sayang bilang gitu Ibu’ gak mau berobat ke dokter spesialis.”

“Terus?”

“Pokoknya sayang harus tanggung jawab. Kasih tau ibu biar mau berobat ke dokter spesialis lagi…”

“Loh, lha terus saya mesti bilang gimana?” Tanya saya semakin keheranan.

“Ya gak tau, pokoknya sayang harus bertanggung jawab…”. (Uhh… Gimana ini???)

Pembicaraan berakhir karena saya harus segera berangkat ke kantor. Dan tentu saja pembicaraan tadi memberi saya PR untuk diselesaikan : membujuk Ibu’ biar mau berobat kembali ke dokter spesialis. (Sebagai catatan, penyakit paru-paru Ibu’ yang dulu kemrin kambuh lagi).

***

Ah… sejujurnya saya bingung sendiri harus bilang apa. Jika masalahnya di obat generik, harusnya kan gak ada masalah. Gak mungkin dong saya harus meralat keterangan saya, padahal saya yakin obat generik sama khasiatnya dengan obat-obat yang lebih mahal itu. Lagi pula, apa kata Ibu’ nanti jika saya plin-plan, gak konsisten dengan yang saya ucapkan?

Untuk menambah referensi, saya mencoba berguru sama si mbah Google. Mencari tau apa dan bagaimana obat generik itu sesungguhnya. Apakah benar kekhawatiran dinda bestari bahwa obat generik itu kalah ampuh dengan jenis obat mahal lainnya?

Dan inilah hasil pencarian saya:

Di situs MedicaStore, sepertinya saya memperoleh jawaban yang saya cari. Untuk membaca artikel selengkapnya jenengan bisa klik di sini. Artikel tersebut ditulis berdasarkan keterangan dari DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes (Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI)) dan dr. Marius Widjajarta, SE (pendiri Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI)). Atau jika ingin artikel yang lain, bisa klik di sini.

Dalam artikel itu disebutkan bahwa obat generic pada dasarnya sama khasiat dan keampuhannya dalam mengobati penyakit. Secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

Secara internasional, obat hanya diibagi menjadi 2. Yaitu obat paten dan obat generik. Obat paten adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya. Dan obat Generik adalah obat paten yang masa patennya sudah habis. Karena kandungan dan bahannya bisa dikatakan sama, harusnya khasiat dan keampuhannya pun juga sama.

Tidak hanya itu, bahkan dr. Marius Widjajarta, SE mengatakan demikian:

“Orang kan makan generiknya bukan merknya, karena yang menyembuhkan generiknya,”

“Mintalah obat generik ketika berobat ke dokter dan ingatkan dokter bahwa jika dokter tidak memberikan informasi yang benar, jujur dan jelas maka dokter bisa melanggar UU No. 8 tahun 1999.”

Dalam kalimat penutupnya, di artikel itu disebutkan demikian :

Jadi tidak ada alasan terutama bagi konsumen yang berkantong tebal untuk ragu dan merasa ‘bersalah’ jika hendak memilih obat generik dengan alasan penghematan. Apalagi dalam kondisi bangsa saat ini yang sedang menderita kronis akibat permasalahan hukum, politik, ekonomi, dan keamanan, di mana diperlukan kecerdasan seorang konsumen dalam memilih pengobatan.

Dari keterangan tersebut tentu saya semakin yakin dengan kualitas obat generik. Tapi yang masih menjadi ganjalan di hati saya, bagaimana caranya meyakinkan dinda bestari? Saya tentu memaklumi keinginan dinda bestari yang ngotot meminta Ibu’ berobat ke dokter spesialis dan memperoleh obat yang lebih mahal/ampuh. Tujuannya cuma satu, biar ibu’ segera sembuh.

Tapi,setelah tahu semua itu apakah saya masih harus meralat keterangan saya tentang obat generik itu? Bagaimana menurut jenengan?


Related Topics : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

More at: KESEHATAN

16 Komentar »

  1. waktu ibu dirawat di RS, stroke dulu, dokternya minta antibiotik yang bukan generik, artinya beberapa waktu tetap dikasih antibiotik generk…lalu si dokter tak ada hubungannya dengan sales obat (med rep), awalnya saya curiga..hasilnya sembuh…

    #Kojeng : Bagi saya sebenarnya juga gak masalah, generik atau bukan. Yang penting bisa segera sembuh, Makasih ya mas infonya.🙂

    • KangBoed said

      pertamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaxxxxxxxxzzzzzzz

      #Kojeng : 🙂

  2. obar generik ya..?
    kalo yang lebih mahal lebih ampuh, dan ada dana untuk memperoleh itu semua, saya kira sah sah saja pake obat non generik…

    salam kenal mas…

    #Kojeng : Salam kenal juga. Thanks infonya.🙂

  3. ibu saya sendiri punya penyakit jantung yg sudah cukup lama d idapnya, dan sampai sekarang hrs terus kontrol sebulan sekali sekaligus ambil jatah obat bulanan nya.
    ada sebagian obatnya yg generik kok Mas, alhamdulillah cocok2 saja.
    Nggak ada salahnya kok Mas, tetap pergi ke dokter ahli, tapi minta obatnya yg generik, khasiatnya sama saja kok.
    Semoga ibunda Dinda Bestari selalu diberi kesehatan OlehNYA, amin.
    salam.

    #Kojeng : Saran bagus bunda, tetep dokter spesialis tapi kalo bisa minta obat generik… Win-win solutions…:)

  4. ya hampir sama ajah kok mas, kakak ku pernah pake dan untuk khasiatnya ga jauh beda. bedanya cuma harga gitu loh
    pagi sama mbak dinda udah dikasih sarapan belom.

    #Kojeng : Owh… begitu ya mas? Sudah sarapan dong, jenengan gimana? Masih males sarapan? He.he.🙂

  5. elmoudy said

    kupikir sih mau pake merek ato tidak.. mau generik atau bukan… buat kita yang awam apalah bedanya. Toh kita juga gak bakalan ngerti tuh obat manjur kagak buat kesehatan kita. Yang terpenting kan positif thinking kalo sakit yg kita derita insyaallah cepet sembuh…. dengan obat/ pengobatan yg seminimal mungkin.. gitu kalee yaa

    lam kenal jg deh

    #Kojeng : Setuju… Obat cuma perantara, yang menyembuhkan tetep yang di atas…🙂

  6. perigitua said

    haddiiirr….

    obat generik juga ok kok, cuma kepercayaan aja yang membuatnya tetep jadi obat kelas kesekian…🙂
    btw, ibu sakit apa?, ati2 kalo sakitnya khusus lho…., tanggung jawab gan. selamat merayu sang ibu ya…
    cu….

    #Kojeng : Terakhir, katanya pembengkakan jantung… Wah, kalo saya merayu Ibu’ angkat tangan, merayu anaknya aja ah… He.he.

  7. heri said

    berobat ke spesialis bukannya lebih bagus biar lebih mantap

    #Kojeng : Maksud saya juga begitu mas, tetep ke spesialis. Tapi obatnya, kalo ada generiknya kan lebih hemat…🙂

  8. KangBoed said

    SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG

    ‘TUK SEMUA SAHABAT SAHABATKU TERSAYANG

    ” I LOVE YOU PHUUUUUUUUULLLLLLLLLLL “

    #Kojeng : Salam juga KangBoed… Ha.ha.

  9. Aan said

    Obat generik bagus juga koq…. mungkin yang bikin obat non generik itu mahal karena import ya…kena bea masuk, POM segala… CMIIW

    #Kojeng : Kayaknya sih emang seperti itu kang….🙂

  10. isnuansa said

    soal obat, buat saya lebih mirip sugesti, lho. saya ‘tergantung’ sama merk tertentu, dan kebanyakan generik, beli di warung.

    kalo terpaksa, saya minta resep ke kawan [dokter] via chat di FB, trus beli di apotek kawan juga. dasar pengiritan, hehe…

    #Kojeng : Bisa ditiru itu mbak nunik… He.he.🙂

  11. BeLajaR said

    setuju kata bunda…
    berobatnya ke spesialis,,, tpi minta yang generik klo ada.😀

    klo dengan obat generik dirasa udah ok,,, kan lebih mengirit biaya, karena biasanya obat paten lebih mahal karena lebih spesifik biasanya.
    lagipula, klo tau nama generik obatnya,,, klo sewaktu-waktu obat paten yg dicari ga ada, kan ada alternatif obat paten lain yang beda nama tapi isinya sama.

    bilang aja mas dengan ibunya,
    ke dr.spesialis dengan ke RSU ya sama aj dunkz…
    kan ntar di RSU yg nanganin jg dr.spesialis, cuma biasanya obatnya aj yang lebih generik mungkin klo di RSU.
    lagipula di RSU bisa beresiko dr.spesialisnya ga di tempat,,, daripada bolak-balik,,, mending ke dr.spesialis langganan yg udah tau riwayat penyakitnya.
    kcuali klo kurang berkenan dengan dr langganan biasanya, ya pindah aja ke dr yg lain,,, tpi musti menceritakan ulang riwayat penyakitnya, biar hasil pengobatan bisa lebih optimal.

    #Kojeng : Mantap mbak komennya…🙂
    Rencana saya juga seperti itu. Saya sudah bilang ke dinda bestari, dokternya tetep spesialis. Tapi kalo bisa (dan tidak berbahaya) obatnya minta generik. Meski mungkin gak semuanya generik.

  12. umm… betul kata om kojeng soal obat itu. tapi mungkin yg harus diyakinkan ialah, tidak smua sakit bisa sembuh begitu saja dgn obat generik. begini maksud saya om, jika memang penyakit ibunya Dinda Bestari itu ketahuan dan memang membutuhkan pengobatan yg spesial, knp tidak harus kesana? krn obat generik kan obat yg biasanya digunakan utk penyakit yg umum2 saja. terkadang sebagai orang awam kita cuma bermodalkan yakin saja ttg keampuhan obat generik. padahal misalnya penyakit itu membutuhkan perawatan khusus seperti ke dokter spesialis misalnya.🙂

    cepat sembuh untuk ibunya Dinda Bestari.😉

    #Kojeng : Wah, kalo masalah itu saya serahkan ke Dinda Bestari. Dari awal juga saya ndak menyarankan pakai obat generik. Pas kebetulan saja Ibu’ nanya obat generik itu gimana, eh taunya jawaban saya membuat ibu’ enggan berobat ke spesialis… Hikz.Hikz.
    Terima kasih doanya…🙂

  13. Kita kan kadang2 terpengaruh merek tho mas, juga kemasan. Kalau mereknya PakdheCool gitu mungkin laris, apalagi kalau kemasannya mengkilat dengan logo yang cemerlang.
    Lha obat generik kan biasanya diwadahi kantong plastik biasa, jadi kesannya nggak ngeTopngeTren gitzuuu.

    Ya dibicarakan saya secara bijaksana, kalau ibu nyaman dengan obat generik kan nggak jadi soal.
    Semoga ibu segera sehat ya mas,
    Salam hangat dari Surabaya.

    #Kojeng : Terima kasih sarannya Pak Dhe… yang menghendaki obat generik memang Ibu’ sendiri. tapi tetep nanti dicarikan jalan terbaik…🙂

  14. downno said

    terimakasih infonya.,. untuk info motogp jangan lupa mampir kesini ya : motogp.unsri.ac.id

  15. Meski disakiti berkali-kali wanita bijak tetap bisa memafkan dan semakin tegar seperti batu karang.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: