Ketika taring tak lagi tajam…


Selamat datang sahabat-sahabatku… Apa kabar jenengan semua? Semoga jenengan saat ini sedang berbahagia, sama seperti saya… He.he.


Setelah beberapa saat lalu saya berbicara tentang Pak Boediono,sekarang gantian saya ingin berbicara tentang Pak Jusuf Kalla (JK). Loh, Ada apa dengan JK?


Jawa Pos hari ini menulis cerita bersambung perihal kegiatan pak JK pasca pemilu pilpres lalu. Diberitakan, semenjak beliau “kalah” dalam pilpres kemarin, Pak JK terlihat mulai “ditinggalkan”. Berikut ini kutipannya :

Bahkan, sejumlah menteri tak bersedia diajak wakil presiden meninjau proyek infrastruktur yang menjadi bagian dan tugasnya. Pekan lalu, misalnya. Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Menpera Yususf Asyari, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, dan menakertrans Erman Soeparno tidak bersedia mendampingi JK ketika meninjau proyek Bandara Kuala Namu di Deli Serdang, serta meninjau proyek rumah susun untuk pekrja di Batam.

Tak hanya pejabat pemerintahan, para fungsionaris Golkar yang dulu selalu ikut satu pesawat dengan JK setiap kali berkunjung ke daerah kini juga tak lagi terlihat.

Lalu apa komentar Pak JK atas sikap bawahan-bawahannya itu?

“Tidak apa-apa. Itulah sifat manusia. Saya tidak masalah, kan bisa jalan sendiri.”

Wah… Ndak lucu dong kalo wakil presiden jalan-jalan meninjau proyek sendirian. Coba saja yang sekarang ngajak keluar Pak SBY, bukan Pak JK. Dijamin menteri-menteri pada gembrudul ikutan keluar. Jangankan yang diajak, yang gak diajak pun ikut-ikutan ikut. Tanya KenApa? He.he. Saya yakin jenengan sudah paham maksud saya.

Hm…. Kalo saja saya yang diajak Pak JK, tentu saya akan siap sedia. Saya pasti akan dengan senang hati menemani Pak JK jalan-jalan meninjau proyek-proyek tersebut. Bagaimana dengan jenengan?

Sayangnya, Pak JK tidak mengajak jenengan atau saya. Pak JK, karena ini urusan pekerjaan, tentu mengajak menteri-menteri yangmengurusi proyek-proyek tersebut. Tapi lebih sayang lagi, Pak JK sebagai wakil presiden terpaksa harus menelan kekecewaan karena ajakannya ditolak. Mau apa lagi?

Saya cuma bisa senyum-senyum membaca berita tersebut. Ternyata gak cuma orang-orang sekelas teman kerja saya yang bersikap seperti itu. Bahkan pejabat sekelas menteri pun bisa juga.

Manut karena takut. Berhubung yang ditakuti tak lagi bergigi, ya gak manut lagi…

Medekati karena ada yang dicari, saat yang dicari tak ada lagi ya ditinggal pergi…

Selalu bilang IYA pada yang berkuasa. Ganti penguasa ya ganti lagi jawabannya…

Bagaimana menurut jenengan?

Salam, Kojeng.

Related Topics : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

More at : POLIKLITIK

3 Komentar »

  1. isnuansa said

    Yo pantes mbrubul ngikutin yang ada gulanya, Konjeng… Kan ada gula ada semut, hehehe, nggak nyambung ya?

    #Kojeng : Mungkin gulanya Pak JK sudah gak manis lagi ya mbak nunik?🙂

  2. Makanya jadilah manusia yang baik, jangan karena kampanye sebentar saja dah njelek-njelekkan kawan. Kalau keok kan teman jadi menjauh.

    Kawan bisa mengangkat kita dan juga bisa menjatuhkan kita mas. Sebaiknya ya berbuat baik dimana saja-kapan saja dan kepada siapa saja. Berat memang, tetapi bukan tidak mungkin kan.

    Salam hangat dari Surabaya.

    #Kojeng : Weh..he.he. Setuju pak Dhe…

  3. hmm… kasihan.😉

    #Kojeng : Gak perlu ikut nangis, jeng dilla…🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: