Akhir kasus Ibu Prita?


Sejak kasus Ibu prita Mulyasari mencuat pada pertengahan Mei 2009, saya benar-benar tertarik mengikuti kelanjutan kisah tersebut. Setelah menyita perhatian publik untuk beberapa lama dan sempat memancing reaksi dari petinggi negeri, kasus tersebut akhirnya meredup dengan dihentikannya kasus Ibu Prita Mulyasari oleh PN Tanggerang pada 25 Juni 2009.

Prita MulyasariSebenarnya masih ada satu pertanyaan yang menggantung di benak saya . Pertanyaan tersebut berkisar  tentang efek pemberitaan kasus Ibu Prita terhadap tingkat kunjungan pasien di RS Omni.

Apakah pemberitaan tersebut akan memberikan efek signifikan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada RS Omni? Ataukah hanya dianggap angin lalu oleh masyarakat?

Dan ternyata  pertanyaan itu baru terjawab pagi tadi saat membaca headline JawaPos.

Seperti diberitakan oleh Jawa Pos, ternyata eh ternyata tingkat kunjungan pasien di RS Omni International memang menurun drastis. Diberitakan saat ini karyawan RS Omni banyak yang terlihat “nganggur” , tentu penyebabnya karena sepinya pengunjung yang datang. Bahkan sebagian karyawan juga mengkhawatirkan  penurunan kesejahteraan mereka jika kondisi seperti itu terus berlanjut.

Jawa Pos menggambarkan kondisi RS Omni sebagai berikut:

“Sepinya pasien di RS Omni juga disaksikan Jawa Pos saat berkunjung ke sana Rabu pekan lalu. Saat itu, sekitar pukul 10.00, di bagian poliklinik sekaligus deretan eye center itu, belum tampak seorang pun pasien yang berobat. Kondisi yang sama terlihat di poliklinik anak dan kebidanan di lantai 1. Poliklinik rumah sakit itu benar-benar senyap. Hampir tidak ada aktivitas pelayanan medis di sana.”

Tentu jenengan semua tahu ke arah mana pembicaraan saya ini. Pertanyaan saya terjawab sudah. Langkah yang selama ini diambil oleh RS Omni dengan memperkarakan Ibu Prita Mulyasari terbukti berefek buruk pada tingkat kepercayaan konsumen. Hal tersebut ditandai dengan penurunan jumlah pasien secara signifikan.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah hal tersebut sudah cukup membuat jajaran RS Omni mengambil hikmah dari langkah “keliru” yang dulu ditempuh?

Saya sangat ragu untuk menjawab IYA. Apa pasal?

Diberitakan pula hari ini di situs Kompas , ternyata hingga sekarang  tim pengacara RS Omni masih belum patah arang untuk meneruskan kasus Ibu Prita tersebut ke pengadilan.

Berikut ini kutipan dari berita di harian Kompas tersebut :

“Jaksa Penuntut Umum saat ini tengah menunggu surat balasan atas pengajuan kelajutan kasus Prita Mulyasari (32) dari Pengadilan Tinggi Banten. Jika surat balasan itu sudah diterima, pihak kejaksaan akan segera menggelar kembali perkara pencemaran nama baik RS Omni Tangerang oleh Prita.”

“Yang sudah kita katakan sebelumnya bahwa sidang kasus Prita belum final dan kasus Prita akan kembali dilanjutkan sampai hakim memutuskan Prita bersalah,” Begitulah ungkapan JPU yang menangani kasus tersebut.

***

Ah… Saya benar-benar tak habis pikir membaca berita tersebut. Secara nalar,kejadian di masa lalu seharusnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Tidak seharusnya kita mengulangi kesalahan yang sama. Terlebih jika kesalahan tersebut nyata-nyata telah berdampak buruk bagi kita.

Saya benar-benar tak mengerti jalan pikiran mereka.

Ah… Sudahlah, mari kita tunggu saja bagaimana kelanjutan kasus Ibu Prita tersebut. Saya, dan tentunya Jenengan semua tentu berharap yang terbaik untuk Ibu Prita Mulyasari. Saya harap kasus tersebut cukup sampai di sini.

Dan, Saya yakin kita semua akan selalu merapatkan barisan untuk menentang upaya-upaya yang bisa mengancam kebebasan kita berpendapat. Semoga saja jenengan semua belum menurunkan BANNER DUKUNGAN untuk Ibu Prita…

Salam…🙂

NB: Gambar di atas saya pinjam dari http://kangtutur.wordpress.com yang konon katanya diambil dari http://politikana.com

25 Komentar »

  1. faza said

    hadddiiirrr pertamaxxxx….

    Aih, kenapa langkah salah musti di ulang, ego dan nama baik tetep dipaksakan. kenapa tidak minta mangap aja, dokter juga manusia kan???
    hikmah yang bisa diambil sebenarnya adalah, RS bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka bertanggungjawab penuh bila ada kesalahan dalam penanganan, sehingga orang2 juga akan makin tenang berobat ke sana. Garansi gitu loh ceritanya
    cu…

    • Terlanjur basah mungkin mas faza… ya udah, nyebur lumpur sekalian…🙂

      • faza said

        hahahaha…
        awas masuk angin, ntar salah ngerokin lagi
        hehehuehue..
        cu…

  2. Nextufly said

    saya sebagai orang kecil turut prihatin dengan apa yang di alami ibu Prita. Karena saya kerap mengalami kekecewaan serupa, meskipun saya tahu hak kebebasan mengeluarkan pendapat dilindungi oleh undang-undang, tetapi belum tentu orang yang saya hadapi mengerti dengan undang-undang tersebut. Masyarakat kita masih cenderung represif dengan kata-kata yang mengandung himbauan atau pun kritik. Kadang kritik yang membangun suka disalahartikan sebagai tindakan pelecehan.
    Semoga menjadi masukan buat mereka yang kritis dengan peristiwa-peristiwa di sekitarnya.

    • Memang tak semua orang bisa menerima kritik dan kekurangan. Lebih banyak dari kita yang hanya meu menerima pujian dan sanjungan…🙂

  3. Saka said

    “Yang sudah kita katakan sebelumnya bahwa sidang kasus Prita belum final dan kasus Prita akan kembali dilanjutkan sampai hakim memutuskan Prita bersalah,” Begitulah ungkapan JPU yang menangani kasus tersebut.”

    kalo pengadilan nanti tetap memutuskan Ibu Prita tidak bersalah gimana? masa mo ngotot sih JPU👿

    • Saka said

      KUNJUNGAN DINAS SELESAI😆

      • sori kang, gak bisa ngasih oleh-oleh… Hi.hi.🙂

    • Ngotot to kang, wong sistem peradilan kita kan emang berlapis-lapis. Lolos di PN, Naik ke PT, lolos lagi naik lagi ke MA…
      Bisa-bisa nanti naik-naik ke puncak gunung… Hi.hi.🙂

      • KangBoed said

        KUNJUNGAN DARI KANG BOED

  4. virmansyah said

    repot kok system hukum di indo ini…
    mampir ke blog ku ya

  5. riy4nti said

    Nite kang kajo…

    Kang q add linkna yah…matur tengkyu

    Salam sayank

  6. Malem juga jeng riy4nti… silakan di add link saya, link jenengan saya pasang di blogroll.🙂

  7. KangBoed said

    Weleh welleeeh Hukum negeri antah berantah bikin bingung yaaaaaaaaaaa
    Salam Sayang

    • Maklum kang, yang buat undang-undang juga mbingungi dengan membuat pasal-pasal karet soale kang…🙂

      Salam, Kojeng.

  8. Aldy said

    Yang besar memang selalu ingin menang sendiri, sementara yang kecil dibiarkan kencing sendiri ….[what ?], semoga saja masih asa dan bukan menjadi perjuangan yang sia-sia.

  9. D3pd said

    Saya bangga dengan Ibu Prita ya, seorang wanita tangguh dan saya selalu medukungnya, ^_^…V

  10. omiyan said

    transparansi itu yang utama dari kasus bu prita

    • Iya kang, semoga kasus ini bisa segera selesai… Salam kenal…

  11. hmmm…. prihatin pastinya. hmmm….

    *om kojeng ini klo jadi mahasiswa, saya bisa prediksikan mungkin jadi aktivis yah. abis tulisan2nya kebanyakan humanis abis…*

    • Berhubung saya sekarang dah kerja, jadinya ya tiap hari suka bantah kebijakan2 si Boss. Sampai bosen kayak’e si bos sama kritik2an saya… He.he.🙂

  12. dokterdita said

    mas, ijin copy gambarnya ya…

  13. RS itu memang gak punya hati nurani. Sudah salah malah arogan. Kini rakyat bersatu melawan …
    Tunggulah saat bangkrutmu …
    Arek Suroboyo ngomong : RASSSAKNO KOEN !
    Salam.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: