Kojeng : Bahasa politis…


” Sejujurnya saya tak tahu benar apa yang dimaksud “bahasa politis” itu. Mungkin jika Jenengan telusuri asal kata dan arti frasa tersebut di wikipedia, kecil kemungkinan Jenengan akan memperoleh jawaban yang memuaskan. Meski begitu Jenengan tak perlu kuatir, Saya dengan “sok tahu” akan menjelaskannya kepada jenengan semua…” He.he.

Apa yang dimaksud bahasa politis? Saya mencoba mencarinya di wikipedia, dan memang hasil yang saya peroleh jauh dari yang saya maksudkan di sini.

Istilah bahasa politis ini “mungkin” muncul sebagai reaksi atas ulah para politisi senior di negeri kita. Loh kok? Jika Jenengan sering mengamati komentar-komentar dan pernyataan politisi kita dalam menanggapi berbagai isu, hampir semua dari mereka tidak memberikan pernyataan pasti. Tapi selalu berupa pernyataan “mengambang” yang bersifat muti-tafsir.

Nah, pernyataan yang masih bisa dipelintir semacam itulah yang saya maksudkan dengan bahasa politis.

(Ndak setuju? He.he. :))

Saya tertarik menulis tentang topik ini bukan tanpa sebab. Berawal dari perjalanan kami ( Saya, manajer saya dan dua teman saya) kemarin malam, muncul kosa kata baru itu di benak saya. Dalam perjanan kembali ke kantor setelah dari pekerjaan lapangan, kami membicarakan banyak hal. Dari yang serius hingga omongan kosong sekedar lucu-lucuan. Kami tertawa sepanjang perjalanan. Mungkin penat setelah seharian bekerja membuat kami benar-benar butuh penyegaran. Hingga tanpa sadar kami sampai pada pembicaraan mengenai “bahasa politis” ini:

“ Itulah yang namanya bahasa politis, Mas. Dalam kehidupan sehari-hari kadang dibutuhkan bahasa politis semacam itu…” kata Manajer saya menjelaskan.

“ Maksudnya bahasa politis, Pak?” tanya teman saya.

“ Maksudnya adalah Kita mengatakan sesuatu, mungkin sesuatu yang kontroversial, tapi sedikitpun kita tak bisa disalahkan karenanya. Kita mengatakan A, orang lain menafsirkannya B, padahal mungkin yang sesungguhnya kita maksudkan adalah C. ”

“ Loh, kok bisa Pak? ”

“ Ya bisa saja, Mas. Wong yang kita katakan bukan sebuah kepastian. Tapi sebuah pernyataan yang bersifat multi-tafsir. “

” Jika ada orang yang terburu-buru menafsirkan perkataan kita, dan hasilnya berbeda dengan maksud kita sesungguhnya, itu kan hak mereka. Dan mungkin memang kesalahpahaman itu yang kita inginkan. Dan ketika ada yang complain ke kita tentang salah pahan tersebut, kita bisa dengan santai menjawab, ‘saya tidak pernah bilang seperti itu kok, mungkin jenengan yang salah paham…’ “

” Oh… Begitu ya Pak? “ kata temen saya manggut-manggut.

Saya berpikir. Mencoba memahami maksud penjelasan tersebut. Mungkin perkataan Manajer saya itu ada benarnya, batin saya. Setelah saya pikir-pikir, permainan politis semacam itu memang banyak saya jumpai di kehidupan nyata. Dan mungkin saja tanpa sadar saya pun pernah mencobanya.

Tentu jenengan pernah mendengar cerita tentang “Ember Anti Pecah”. Alkisah, Seseorang membeli sebuah ember plastik karena tertarik dengan promosi sang penjual yang mengatakan embernya anti pecah. Tentu saja pembeli tersebut berpikir bahwa ember tersebut kualitasnya bagus dan tidak bisa pecah. Tapi ketika dicoba, ternyata ember tersebut sama saja, bisa pecah seperti ember plastik pada umumnya. Lalu ketika si pembeli komplain kepada sang penjual, dengan santai si Penjual menjawab, “Maksudnya Anti Pecah itu bukannya gak bisa pecah, tapi jenengan harus memperlakukan ember tersebut hati-hati agar jangan sampai pecah…” Oh, ladalah….

Pernahkah jenengan melakukan atau menjumpai hal yang seperti itu? Mengatakan sesuatu, dan berharap orang yang kita ajak bicara mengartikan berbeda dari yang sesungguhnya kita maksudkan? Tapi tentunya kita tak bisa disalahkan dengan perkataan tersebut karena kita sudah siap dengan seperangkat “logika” pembelaan.

Saya yakin kita semua pernah menjumpainya. Di banyak kesempatan, bahasa seperti itu sering digunakan untuk berbagai keperluan. Ada yang murni sekedar bercanda, namun ada pula yang melakukannya untuk tujuan dan motif tertentu. Ada yang merugikan dan ada pula yang cuma sekedar buat seru-seruan.

Namun diakui atau tidak hal yang seperti itu sudah menjadi bagian hidup kita. Tinggal kita yang harus berhati-hati dan lebih teliti dalam menerjemahkan sebuah pernyataan. Jangan sampai kita “tertipu” oleh logika si “politikus jadi-jadian”. he.he.

 Salam.🙂

13 Komentar »

  1. Singal said

    Maka bahasa politis berarti bohong, itu maksudnya? atau tidak perlu dipercayai..

    • Mungkin yang menggunakan bahasa itu tidak mau jika disebut “tidak jujur”, namun yang pasti mereka memang “tidak berterus terang” …

      Salam kenal Pak.🙂

  2. Saka said

    wah wah wah
    berat berat berat
    ini lebih tinggi dari bahasa tingkat tinggi

    • Nggak usah dipikul kang saka kalo berat, buat intrermezo ajah… He.he.

  3. Rychan said

    Wah blog ane di suspend!!!!! hiks….hiks……😦

  4. dedekusn said

    Teu ngartos,…..
    Tapi bagus kok…😀

  5. Maklum kang, ide lagi buntu. saya tulis aja apa yang bersliweran di kepala saya. Mohon bimbingannya.🙂

  6. genial said

    klu untuk sesama (kalangannya sendiri…) saiia rasa gag masalah… org yg di ajak bicara psti ngerti mksd nya apa… namun adalah lebih baik jika tuk umum.. mbo’ ya’o pake bhsa yg universal biar semua ngerti… kira-kira gtu kang…
    ini yg paling ‘mbutuhkan’ penghayatan…
    ‘ngono yo ngono.. mbo’ ya’o ojo ngono…’

    oalaaaaaaaaahhh

    • kalo untuk kalangan sendiri biasanya buat seru-seruan, cuman kadang ya emang yang niat mem-politik-i orang lain. He.he.

  7. faza said

    haddiirr…

    saya tau kalo kamu tau tapi saya pura2 ga tau
    kamu tau kalo saya tau tapi kamu pura2 ga tau

    lah, ngetik opo tho aku kie, ngerti maksudte ga bos kojeng

    hehehe..
    cu…

    • Saya sampe berulang-ulang bacane, mbingungi mass faza…

      Mungkin maksudnya : Kita sama-sama tau lah…🙂

  8. bahasa politis berarti bahasa yang didalamnya multi-keinginan dari si pemilik atau pelaku bahasa tadi. yup betul jika bahasa itu memang multi tafsir.🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: