Kojeng : Akhirnya bisa ikutan nyontreng…


Ayo nyontreng....

Ayo nyontreng....

Lega rasanya. Setelah pada pemilu legislatif kemarin tidak bisa ikut nyontreng, hari ini saya bisa nyontreng juga. Senang. Puas. Itulah yang saya rasakan. Meski ada yang mengangap satu suara yang kita berikan tidak akan terlalu berarti, tapi ada yang kurang rasanya kalo tidak bisa ikut serta. Satu suara itu yang akan menentukan nasib bangsa ini 5 tahun ke depan. Iya, satu suara yang kita berikan memang akan menentukan nasib bangsa ini.(meski bukan satu-satunya…).

Setidaknya ada satu hal yang menarik yang bisa saya ihat dari proses demokrasi yang bernama pemilihan umum. Di pemilu  seperti inilah kita sebagai warga negara memiliki posisi dan hak yang sama. Kita, setiap satu warga negara sama-sama memiliki satu hak suara. Tidak peduli apakah jenengan presiden atau saya yang hanya rakyat biasa, suara saya dan jenengan bernilai sama. Sama-sama bernilai satu suara. Apakah jenengan bergelar profesor atau saya yang hanya lulusan SLTA, suara kita bernilai sama. Di sinilah kita semua, sebagai warga negara, hak kita bersuara diakui. Jika dalam kehidupan sehari-hari suara kita sering tidak dianggap, dalam pemilu ini suara kita diakui sama dengan suara presiden. Gimana?

Mekipun semangat untuk nyontreng begitu membara, pada pemilu legislatif kemarin, saya  “dipaksa” untuk golput!  Saya “tidak dibolehkan” memilih.Sedih rasanya…

Apa karena tidak tercantum dalam DPT? Apa karena ada yang sengaja “memaksa” kojeng untuk ikut golput?

Ah, bukan… Saya secara sah dan meyakinkan tercantum dalam DPT. Saya juga mendapat surat undangan untuk memberikan suara. Tapi itu di sana, di kampung halaman kojeng. 120 km jauhnya dari tempat saya bekerja. Lalu, kenapa masih gak bisa nyontreng?

Ceritanya lumayan panjang…

Dari sejak beberapa tahun lalu, saya memang jarang bisa mendapat kesempatan nyontreng di kampung halaman. Kojeng ini sudah lama jadi anak rantau. Dan selalu saja kebetulan ketika pemilu digelar saya tidak bisa pulang kampung. Untuk pileg kemarin dan pilpres hari ini pun, saya harus tetap
stand-by di kantor. Ikutan siaga satu alias piket. Maklum, perusahaan tempat saya bekerja merupakan salah satu obyek vital yang harus dijaga. Terutama pada saat pemilu seperti sekarang ini. Kalau sampai terjadi masalah, bisa ikut mengacaukan jalannya pemilu.Saat sekarang ini, saya bisa 24 jam penuh tinggal di kantor.

Menurut rencana, saya bermaksud mencontreng di sekitar tempat kerja. Karena kenyataannya memang say tidak bisa pulang kampung. Nah, berbekal sok tahu dan ketidak-tahuan akan mekanisme pemberian suara, pada pileg kemarin, saya “ditolak” saat datang ke TPS di sekitar kantor.

Awalnya, berdasarkan pengalaman saya pada pilpres 2004 yang bisa mencoblos di luar kota dengan hanya berbekal kartu pemilih, saya dengan yakin dan semangat menuju ket TPS. Kepada petugas kojeng menjelaskan kondisi saya yang anak rantau. Intiya ingin memberikan suara tapi undangannya tidak di TPS tersebut. Ketika ditanya apakah saya membaa surat pengantar pindah tempat nyontreng, saya jaab aja tidak bawa. ( Padahal sebenarnya gak tau, kalau prosedurnya harus bawa form A5. Hehe.).

Oleh KPPS, saya diminta ke PPS yang ada di kantor kelurahan untuk meminta pengantar. Katanya mereka tidak bisa mengijinkan tanpa pengantar dari PPS.

Agak sedikit kecewa sih. Tapi tetep aja, dengan berbekal semangat nyontreng yang membara saya menuju ke PPS. Hasilnya sama, saya tetep tidak bisa nyontreng tanpa membawa surat keterangan pindah nyontreng (form A5).

Berbekal pengalaman itulah, sewaktu pulang kampung kemarin saya menyempatkan diri meminta surat pengantar ke KPPS di kantor desa. Jika waktu pileg menggunakan form A5, kali ini saya diberi form A7. Katanya ada perubahan formulir dari pileg ke pilpres. Tak apalah, saya manut saja. Dan dengan berbekal surat tersebut, akhirnya kojeng tadi siang bisa memberikan suara. Lega rasanya…

Mungkin tidak banyak yang bisa saya dapatkan dengan “susah-susah” ikut memberikan suara. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan mendapatkan imbalan secara langsung dengan ikut nyontreng. Namun, saya percaya, pemilu merupakan satu proses untuk membangun bangsa ini. Jujur, saya masih belum pesimis akan nasib bangsa ini ke depan. Saya masih percaya bahwa kita masih punya harapan. Di tengah krisis ekonomi dan krisis mral bangsa, saya masih menyimpan asa untuk masa depan indonesia tercinta.

Halah, itu semua kan cuma kata kojeng. Apakah jenengan juga berpendapat sama?

4 Komentar »

  1. hmmm… semangat untuk negeri ini, pak!

  2. m4stono said

    wah sama dunk mas….yg pileg kemarin ga ikut nyonteng…untung aja gak ikut..klo ikut bisa puyeng….banyaaaak amiiirr…
    btw …salam kenal

    • Betul sakali mas, milih di pileg pastinya puyeng minta ampun. Mungkin itu hikmahnya saya gak ikutan milih… He.he. *menghibur diri*
      Salam kenal juga mas… tengkyu dah mampir…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: