Kojeng : merindukan pemimpin sejati…


Pak Boediono, sang ekonom...

Pak Boediono, sang ekonom...

Sore ini kojeng seperti biasa, mendekati jam 16.00 kojeng sudah stand by di depan komputer. Capek banget rasanya. Seharian tadi di lapangan, ketemu sama pelanggan-pelanggan, hampir setengah hari celingak-celinguk seperti orang bingung nyari barang ilang.🙂

Sore hari seperti ini yang sering kojeng nantikan. Setelah lepas dari jam kerja, setelah selesai menunaikan tugas hari ini, kojeng bisa melepas penat. Nyampe kantor langsung nyalain komputer, nengok stats di blog kolojengking bentar dan akhirnya bisa browsing, membaca postingan-postigan  ndoro kakung n mb’ dewi lestari. Itulah kojeng. Gak ada yang rumit. Just simple.🙂

Back to the title, merindukan pemimpin sejati. Judul itu kojeng dapet setelah baca postingan ndoro kakung perihal cawapres SBY, Pak Boediono. Sekedar catatan, Pak Boediono ini adalah sosok yang mampu membuat kojeng bergairah (gak pake napsu loh… :)), Satu diantara beberapa idola kojeng yang mampu menjadi titik terang masa depan bangsa ini.

Iya, kojeng emang mengidolakan beberapa tokoh nasional negeri ini. Bukan karena ketampanan atau kecantikan mereka, bukan karena kepiawaian tebar pesona di layar kaca, apalagi terlena oleh suara merdu nyayian mereka. Bukan, kojeng cukup kritis dan anti fanatis. (Kojeng gak pernah me-label-i diri sebagai anggota partai mana pun atau pendukung capres mana pun…🙂 ).  Kojeng melihat kerja mereka, melihat bagaimana mereka memanfaatkan kesempatan ketika diberi amanah memimpin negeri ini.Itulah poin mereka. Bukan sekedar janji tapi kinerja, siapapun bisa berjanji tapi tak semua orang benar-benar bisa “kerja”.

Dari pemilu di tingkat desa sampai pemilu legislatif kemarin, kojeng sudah muak dengan janji-janji manis. Meski semanis apapun janji mereka, tanpa didukung kapabilitas dan track record yang mumpuni, kojeng cuma tersenyum nyinyir mendengar janji-janji itu.

Sedari awal krisis finansial global mulai menjadi wacana, kojeng sudah concern dengan berita-berita perihal perkembangan nasib ekonomi bangsa ini. Kojeng ngeri, dan sempet pesimis akan kemampuan pemimpin bangsa menghadapi krisis yang maha dahsyat ini. Dari mengikuti setiap detil perkembangan langkah-langkah pemerintah (baca:tim ekonomi), semakin kojeng takzim akan kemampuan mereka. Ternyata bangsa ini punya kemampuan juga. Bangsa besar yang ternyata cukup diperhitungkan dunia. Gambaran Macan Asia tertidur di benak kojeng, perlahan-lahan mulai terlihat bangun. Kojeng rindu akan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa besar. Kebanggaan yang dulu waktu masih SD selalu didengung-dengungkan oleh guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila), bahwa kita adalah bangsa besar, salah satu dari tiga macan asia, disamping Jepang dan China. Wah… Kojeng rindu!!!

Pak Boediono, Ibu Sri Mulyani (MenKeu) dan Ibu Siti Fadilah Supari (MenKes) adalah idola-idola kojeng. Di mata kojeng, mereka adalah sosok bertanggung jawab, profesional, dan benar-benar teguh mengemban amanat. Mereka adalah inspirator kojeng dalam usaha menjadi pengabdi bangsa. Kojeng pengen seperti mereka. Pengen banget…🙂

Kojeng, dan mungkin juga semua orang di negeri Indonesia ini, merindukan figur kebanggaan. Figur sekelas Bung Karno, negarawan ulung yang nasionalismenya tak perlu diragukan lagi. Figur yang bisa menjadi inspirator dan motivator yang membangkitkan semangat kita untuk berjuang bersama membangun bangsa. Bukan figur abal-abal yang nasionalisme dan kualitasnya masih dipertanyakan. Itulah figur impian kojeng, figur pemimpin sejati yang mampu mengembalikan kebanggaan kita sebagai bangsa besar, bangsa Indonesia!!!

Bagaimana tidak. Kojeng sudah muak dengan “kebijakan-kebijakan” pemimpin bangsa ini yang “tidak bijaksana”, yang cuma profit oriented. Kebijakan yang bukan untuk kepentingan bangsa ini tapi untuk kepentingan mereka pribadi. Kojeng muak dipimpin orang-orang semacam itu. Kojeng merindukan pemimpin yang amanah, yang memposisikan jabatan sebagai amanat yang harus dipertanggung-jawabkan kelak. Pemimpin sejati yang mengayomi bangsa ini.

Kojeng memang hanya bagian kecil dari bangsa ini. Tapi kojeng adalah bagian kecil yang juga punya mata hati. Yang dengan mata hati ini kojeng masih “mampu” menembus dinding kepura-puraan, yang masih cukup peka mengendus bau-bau kemunafikan. Kojeng selalu berdoa, orang-orang seperti pak Boediono yang oleh rekan-rekannya digambarkan begitu bertanggung jawab dan profesional akan mampu menjaga amanat yang “mungkin” kelak diembannya. Amin….🙂

Itulah kojeng yang sederhana, yang (semoga saja) tak silau oleh tingginya pangkat, yang tak terlena oleh merdunya suara, dan tak mempan kilau fanatisme buta.

Bagaimana dengan jenengan? Apakah juga punya impian yang sama dengan kojeng ???🙂

1 Komentar »

  1. pastinya punya..
    manuai dilahirkan ke dunia sebagai khalifah..
    heheh

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: