Ibu, maafkan aku…


Ibu dan anak

Kasih Ibu...

Ibu, satu kata yang begitu dimuliakan. Pantang bagi kita, sebagai manusia yang beradab memandang sebelah mata arti dan jasa seorang Ibu.Jasanya yang begitu besar, kasihnya yang begitu tulus (…dan tak pernah putus) dan semua kebaikan yang menyertainya adalah hal-hal yang membuat kita pantang menyia-nyiakannya.

Bisa kita lihat dalam kehidupan nyata di sekitar kita. Bagaimana masyarakat akan memandang hina seorang anak yang menyia-nyiakan ibu kandungnya. Bagaimana mereka akan dianggap durhaka, mahluk terkutuk yang tak tahu balas budi, golongan orang-orang yang tiket ke neraka sudah di tangan… Oufh… I hope i am not part of them…😦

But, kojeng berpikir, apakah memang seperti itu…

Bakti kepada ibu adalah wujud rasa kasih sayang seorang anak kepada ibunya. Membahagiakan ibu juga menjadi cita-cita hampir semua orang. Dan rasa ingin membahagiakan itu, muncul dari rasa ingin membalas kasih sayang ibu yang setidaknya dulu pernah dirasakannya.

Tapi, apa yang terjadi  manakala seorang anak tak lagi mengingat, atau tepatnya tak diberi kesempatan mengingat tulusnya kasih ibu itu…

Temen-temen kojeng selalu bilang, alasan utama kita harus berbakti kepada ibu adalah karena beliau telah mengandung dan melahirkan kita. Bagaimana perjuangan seorang ibu semenjak mengandung kita selama sembilan bulan, kemudian diikuti “pertaruhan nyawa” untuk melahirkan kita ke dunia, adalah fakta tak terbantahkan bahwa jasa ibu tak akan terbalas dengan imbalan sebesar apapun.

Ya, kojeng juga dan semua orang yang pernah lahir ke dunia ini punya “hutang jasa” yang sama kepada kaum ibu. Ya, kami juga tidak punya alasan untuk memandang rendah jasa dan peranan ibu hingga kami menjadi seperti sekarang. Kami juga tidak punya alasan sedikitpun untuk tidak berusaha membalas jasa mereka (meski katanya meeka tak mengharapkan imbalan apapun…).

Namun, bukankah cinta kasih itu dari hati… dan cinta kasih itu tak pernah luput dari kenangan idah yang terekam memori? Bagaimana jadinya jika anak manusia “merasa” tak pernah menikmati kasih tulus sang mama??? Apakaah salah jika akhirnya mereka tak mampu memberi cinta setulus kasih yang “mungkin” pernah diterima???

Adalah mimpi setiap anak untuk bisa mencintai bundanya… Menghormati ibunya… Tapi, bukankah hak anak juga untuk mendapatkan kasih dari sang bunda??? Ketika anak tak diberi kesempatan untuk merasakan kasih sayang dari ibu, ketika anak merasa tumbuh tanpa belai kasihnya, dan hatinya menjadi begitu keras untuk merasakan dinginnya kasih sayang… Apakah mereka salah jika tak mampu mencintai ibunya seperti yang lain???

Dari sekian banyak kenangan pahit kojeng, perasaan sendiri tanpa kehadiran seorang ibu untuk sekedar tempat meneteskan air mata, adalah kenangan yang tak kan pernah bisa terlupakan…

Maafkan Ibu, jika hingga kini aku masih belum bisa memahami arti cinta dan tulusnya kasihmu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: