
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mengeluh pada saya.
” Ini sudah keterlaluan. Apa si Bos tidak tahu berapa banyak pekerjaan yang sudah diberikan? Pekerjaan ini-itu belum kelar, eh sudah memberi tambahan job lagi. Parahnya, semua pekerjaan pake lebel SEGERA lagi. Pusiiiing….”
Kali ini saya kembali membicarakan tentang teman saya. Bukan saya. Apalagi jenengan semua, he.he.
Teman seperjuangan yang dalam beberapa sisi memiliki sifat berseberangan dengan saya. Yang sudah sekian lama bekerja sama bareng saya, tapi belakangan kami memiliki job posting yang berbeda.
Sekedar catatan, teman saya tersebut tipikal bawahan yang manut. Apa saja yang diminta oleh si Bos selalu di-iya-kan. Meski sesaat setelah menerima sebuah tugas sering dia mengeluh, tapi tetap saja dia akan bilang IYA ketika diberikan tugas baru.
Jika dilihat sekilas, teman saya bisa masuk kategori anak buah yang baik. Yang selalu mematuhi perintah atasan. Tapi masalahnya, teman saya itu tidak mengukur kemampuannya untuk menyelesaikan tugas ketika menerima tugas baru.
Hal yang seperti itu berlangsung dari waktu ke waktu. Seterusnya, hingga akhirnya dia menyerah… Pikiran dan tubuhnya nya tidak sanggup lagi menahan beban pekerjaan.
” Besok saya mau cuti seminggu. Saya mau istirahat. Pusing mikirin kerjaan. Tinggal di rumah dan lepas dari masalah kerjaan, saya pusiiiiggg “
Loh… loh…

Dari sejak kemarin-kemarin pikiran kojeng dipenuhi pikiran tentang kasus Ibu Prita Mulyasari. Berawal dari membaca postingan 



