
Panas, udara bercampur debu di jalanan mengiringi perjalanan kami. Siang ini saya bersama dinda bestari, dalam perjalanan di atas panasnya aspal, dinaungi terik mentari yang membakar kulit.
Saya tidak sedang dalam perjalanan mengantar dinda besatari ke mall untuk belanja atau sekedar cuci mata. Juga tidak dalam perjalanan ke pantai atau ke Semarang untuk menikmati akhir pekan. Sebaliknya, kami dalam perjalanan yang menurut saya setengah “tidak menyenangkan”….
Loh, kok sama dinda bestari bete gitu mas Kojeng?
Bagaimana saya tidak “bete” saudara-saudara (He.he. kayak pidato saja…
), akhir pekan ini akan menjadi awal dari akhir pekan-akhir pekan mendatang, yang tentunya akan ikut kurang menyenangkan. Mulai hari ini, jadwal acara akhir pekan saya akan berubah. Tidak seperti biasa.
Pasalnya, dinda bestari hari ini memulai aktifitas barunya, back to campus!
Ah, bukannya itu bagus mas kojeng?
Saya ndak bilang back to campus-nya dinda bestari sebagai hal yang tidak bagus. Bahkan sangat bagus sebenarnya. Dan jika saya punya kesempatan, saya pun akan melakukannya. Karena belum bisa saja makanya saya belum bisa merasakan enaknya bangku kuliah.
Tapi, kenapa mesti di akhir pekan seperti saat ini? Bukankah akhir pekan itu jatah saya? Kalo setiap akhir pekan kuliah, kapan kami bisa jalan-jalan bersama? Kapan kami bisa menikmati kebersamaan seperti biasanya?
Pertanyaan itu tentu sekedar pertanyaan “nakal” di kepala saya. Pertanyaan yang muncul dari sisi egoisme, pertanyaan reaktif yang biasanya akan dengan mudah kalah oleh logika “kebaikan”. Pertanyaan yang memang tidak perlu dijawab, apalagi ditanggapi berlebihan. Lha terus?





