
Lagi dan lagi, pertanyaan-pertanyaan klise muncul di kepala saya. Apakah “kebenaran” harus selalu diperjuangkan?
Tentu jika saya bertanya ke jenengan, saya yakin hampir semua akan menjawab iya. Apalagi bagi jenengan yang masih berjiwa muda seperti saya, yang konon katanya idealismenya masih sangat tinggi: Kebenaran harus disuarakan, itu sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apapun resikonya.
Itulah yang saya lakukan beberapa waktu lalu, dan kadang masih saya lakukan hingga sekarang. Ketika bicara tentang sesuatu hal, saya selalu berbicara menurut keyakinan saya. Kepada rekan kerja, bawahan juga kepada atasan. Tanpa sungkan dan rau, saya selalu berusaha berbicara apa adanya. Meski saya tau, ucapan saya itu akan tidak bisa diterima, atau salah-salah menyinggung hati seseorang.
Bukankah kebenaran tak selalu manis? Atau malah seringkali pahit?
Ah, tapi akhir-akhir ini saya kembali berpikir ulang tentang pendapat saya itu.
Terlebih setelah saya beberapa lama bergelut di dunia kerja. Perlahan, mau tak mau idealisme itu bergeser juga. Jika awalnya dalam kaca mata saya hanya ada hitam dan putih : benar dan salah, kini bertambah lagi dengan warna abu-abu : sebuah kompromi.
Sejujurnya saya masih belum benar-benar bisa menerima wilayah abu-abu itu. Namun menolaknya sama sekali adalah sebuah keniscayaan. Menerima sesuatu sebagai sebuah kompromi, sebatas itu tidak terlalu bertentangan dengan hati nurani, perlahan mulai saya coba. Namun kadang ada kalanya idealisme yang ada, yang sebenarnya masih berkuasa di alam bawah sadar saya, berteriak: Kompromi adalah sebuah pengkhianatan pada kebenaran!
Lalu bagaimana?
Perjuangan antara idealisme dan kenyataan masih terus berjalan. Saya menyebutnya proses pendewasaan, sebuah proses yang mesti saya jalani untuk bisa melihat dunia seutuhnya. Melihat dunia bukan sebatas hitam dan putih, ada abu-abu di antaranya.
Atau jika saya beruntung, warna-warna yang saya jumpai tidak hanya itu. Ada merah, jingga,kuning, biru, hijau dan seterusnya. Hingga pada akhirnya lengkaplah warna hidup saya, sebagai sebuah rangkaian pelangi yang menghiasi cakrawala.
Bagaimana menurut jenengan kompromi itu?





dhila berkata
pertamaxxx.. dulu.
kolojengking berkata
Pertamax di sini mah murah jeng. Obral deh… wkwkwk
dhila berkata
serasa baca artikel yg ditulis oleh aktivis mahasiswa. hidup mahasiswa!!
hmm, komprominya dlm bentuk apa dulu, om… klo kompromi buat menjahati dan mencurangi mah… weleh2x..
kolojengking berkata
Masak saya sampai kompromi menjahati orang jeng? he.he.
Nggak oq, cuma kadang di tempat kerja kita harus berkompromi dengan diri sendiri. Tak semua yang diperintahkan si bos sejalan dengan hati kita, namun karena keadaan memaksa demikian dan demi kebaikan bersama, ya kompromi yang terjadi…
Salam.
alamendah berkata
(maaf) izin mengamankan KELIMAAAXXXZ dulu. Boleh kan?!
Ideliaseme meski memandang realitas. Kompromi antara keduanya yang akan memberikan komposisi yang terbaik buat semua. Tetapi idealisme meski tetap diperjuangkan agar nilai tawar di depan realitas tetap tinggi
kolojengking berkata
Itulah mas yang coba saya pelajari. Tetap teguh memegang idealisme, namun tidak menutup diri pada kemungkinan kompromi, sebatas itu masih bisa diterima.
Salam,
romailprincipe berkata
seperti statemen berbohong untuk kebenaran! itu tidak ada, salah ya salah, benar ya benar, kesadaran penuh mengenai bersalah dan tidak terus menerus membenarkan diri…mungkin itu langkah awal memahami tentang kompromi
kolojengking berkata
Jenengan berjiwa muda banget mas, salut deh…
deeedeee berkata
hmm,,, hidup ini penuh dg komproni kadang…
mungkin bukan menggeser idealisme tersebut, tp berusahha tetep memegang teguh idealisme tersebut salah satunya dg komproni atau paling tdk mendekati idealisme kita tersebut…
eniwei, akhirnya nulis lagi.. tetep semangat ngeblog ya
kopral cepot berkata
Dalam hidup ini ada wajib, sunat, makruh, mubah dan haram .. sing jelas mana yg bisa di kompromikan mana yg ndak bisa .. seprti merokok .. kadang wajib, kadang sunat, kadang mubah, dan kadang haram …
kopral cepot berkata
btw…… maafs baru melawat ke mari … tetep semangaaaat
sedjatee berkata
Semoga sehat selalu Kang…
Ada kuis kang, disini
http://sedjatee.wordpress.com/2010/03/22/kuis-sahabat-sejati/
Saya tunggu partisipasinya Kang…
Terima kasih and sukses selalu..
sedj
http://sedjatee.wordpress.com
ujangwahyu berkata
wah tulisannya enak di baca. kalau sempet kunjungi blog baru y ka http://blogoratis.wordpress.com
karyawan berkata
saya selalu terperangkap dalam warna abu-abu.
darahbiroe berkata
kompromi diatas putih ajah ahhh heheh,,
takut kompromi diatas hitam
berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
salam blogger
makasih
edda berkata
Waduh ndak tau saya :p
kusfandiari abu nidhat berkata
Dunia memang sedang berpihak. Kapan berpihak, bagaimana berpihak, siapa saja yang berpihak. Dan sebagainya. Hal ini terbukti dengan tarik ulur antara idelisme dan realitas. Masing-masing tidak berada dalam pihak yang sama. Tetapi manakala dihadapkan pada sejumlah pilihan, mau tidak mau tiap-tiap orang akan memilih: memilih salah satu di antara sekian banyak pilihan itu. Dan masing-masing pilihan itu menanggung (baca: mengandung) resiko. Pengalaman menunjukkan bahwa ketika pihak kita ‘kalah’ atau ‘terpinggirkan’ bukan berarti pihak kita akan tertindas. Suatu saat pihak kita akan muncul seiring dengan perguliran waktu.
Yakinlah hal itu. Sikap yang tepat (baca: arif bijaksana) ialah dengan membiarkan keberpihakan itu berjalan apa adanya, sambil menertawakan diri sendiri: mengapa saya harus ngotot agar pendapat saya yang dipakai? Bukankah dalam ajaran Islam: ketika pendapatmu dipakai maka ucapkanlah,”Astaghfirullaahal-adziim”, dan ketika pendapatmu tidak dipakai, ucapkanlah,”Alhamdulillaah.”
Jadilah orang yang merdeka, yang tidak ada beban sedikitpun, meski ada tuntutan untuk peduli terhadap kemaslahatan.
negeribocah berkata
semangaaatttt…!!!
uzee berkata
kompromi harus selalu ada…sebagai penyeimbang, bukankah abu-abu terletak di tengah2?
semangat gan!!!
Voucher Hotel Bali berkata
Setuju gan, speak the truth…